REI Jabar: Backlog Rumah 3,5 Juta, Kuatnya di Kawasan Industri

0 7

Kawasan industri, seperti di Kabupaten Purwakarta dan Subang semakin menopang laju pertumbuhan properti. Infrastruktur pun kian menumbuhkan optimisme pengembang.

Propertiterkini.com – Pasar properti di Purwakarta dan Subang ternyata menyimpan potensi yang perlahan terus menggeliat. Banyaknya kawasan industri yang tersebar di kedua wilayah ini menjadi motor penggerak. Tentunya infrastruktur juga punya andil utama mendorong pergerakan tersebut.

Baca Juga: Properti Purwakarta dan Subang: Melesat Lantaran Industri (Data dan Fakta)

Hal ini pun diakui oleh Joko Suranto, Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Jawa Barat yang juga pemilik Buana Kassiti Group. Sebagai informasi, Buana Kassiti merupakan salah satu perusahaan pengembang properti dengan seabrek proyek yang menyebar di berbagai wilayah di Jawa Barat, termasuk di Kabupaten Subang.

Secara keseluruhan, Joko mengungkapkan besarnya potensi properti di Jawa Barat, dimana backlog perumahan yang mencapai hampir 3,5 juta. Artinya, peluangnya masih sangat besar bagi pengembang properti di kawasan tersebut.

“Distribusinya kebanyakan berada di daerah industri, terutama sepanjang Pantura maupun kota-kota ada yang ada di sekitar itu. Jadi mulai dari Bekasi, Cikarang, Karawang, Purwakarta, dan Subang. Pergerakannya ke sana,” ungkap Joko ketika diwawancarai, belum lama ini.

Joko menilai, adanya pergerakan industri yang mengarah ke Purwakarta hingga Subang telah menumbuhkan pasar properti di kedua wilayah itu. Kemudian adanya interchange jalan tol juga kembali menambah optimisme para pengembang.

Meski demikian, pergerakan besar besar memang butuh waktu. Apalagi dengan kondisi properti yang belum sepenuhnya pulih.

“Ke depan pastinya akan lebih baik. Tapi kalau saat ini, survive untuk bertahan. Namun untuk MBR masih lumayan cukup bagus,” terangnya.

Selain keberadaan jalan tol, infrastruktur lain seperti Bandara Kertajati di Majalengka dan Pelabuhan Patimban di Subang juga punya andil besar menggeser industri ke wilayah tersebut. Belum lagi persoalan keterbatasan lahan dengan harga yang semakin tinggi di Karawang dan sekitarnya.

Baca Juga: BEKASI-PURWAKARTA: Menuju Megapolitan 2045

Rumah Rakyat

akses ke patimban
Pembangunan jalan baru sepanjang 8 kilometer dari Pantura ke Pelabuhan Patimban di Subang./ Foto: dok. Kementerian PUPR

Perlahan tapi pasti, pergeseran properti di kawasan Purwakarta dan Subang memang terlihat jelas. (Baca: Properti Purwakarta dan Subang: Melesat Lantaran Industri – Data dan Fakta). Harga-harga properti pun terus bergerak naik, meski masih dominan bermain di segmen menengah dan bawah.

“Rumah-rumah MBR terutama rumah subsidi adalah pasar yang gemuk dan riil di sana. Kalau di segmen Rp300 juta, ada pasarnya, tetapi masih agak berat juga, terutama di Subang,” kata Joko.

Saat ini, rumah-rumah subsidi baik di Purwakarta maupun Subang memang sangat mendominasi. Hampir semua proyek yang ada, pasti berawal dari rumah-rumah subsidi, meski kini tengah memasarkan rumah komersil.

Pesona Permata Hijau Subang, misalnya. Kawasan hunian 5 hektar yang dikembangkan oleh PT Griya Omega Estetika (Omega Property) ini pun kini hanya tersisa beberapa unit rumah dengan harga mulai Rp300 jutaan (46/75) hingga Rp500 jutaan (80/75). Sementara rumah subsidi sudah sold out.

Baca Juga: Pelabuhan Patimban Topang Berkembangnya Segitiga Emas Pantura

Pun demikian dengan Buana Subang Raya yang dikembangkan oleh Buana Kassiti Group di Jalan R.A Kartini, Wanareja, Subang. Di lahan seluas 25 hektar, akan dibangun sekira 1.750 rumah subsidi (30/60) yang diselipi dengan rumah-rumah komersil.

Untuk rumah subsidi dipasarkan Rp130 juta, sedangkan rumah komersil yang dipasarkan saat ini adalah tipe 45/84 dengan harga Rp370 juta.

“Saat ini tinggal sekitar 800 unitan, selama 2 tahun. Artinya setiap tahun bisa jualan sebanyak sekitar 400-an unit lebih. Ini untuk tahap pertama. Di sana tidak hanya rumah subsidi, tetapi ada juga yang komersil, tapi porsinya hanya sekitar 15% dan ruko beberapa unit,” jelas Joko.

Buana Kassiti Group termasuk pengembang yang awal masuk dan membangun proyek perumahan di Kota Nanas, Subang. Buana Kassiti mulai menjajal proyeknya di Subang pada tahun 2011/2012. Masuknya pengembang seperti menggairahkan kembali properti Subang yang saat itu sedang mati suri.

Baca Juga: Jika Kawasan Industri Bekapur Terintegrasi, Apa yang Akan Terjadi?

“Awalnya kami mulai di lahan di bawah 5 hektar. Kemudian yang kedua kami buka di Kalijati juga relatif membangkitkan properti di sana dengan luas masih di bawah 5 hektar. Kemudian yang ketiga kami sudah di atas 10 hektar di proyek Buana Subang Kencana. Saat itu sudah lumayan berkembang. Dan saat terlihat semakin massif, apalagi adanya pergerakan industri. Makanya banyak pengembang lain juga masuk ke sana,” urai Joko.

Bergeser ke Purwakarta, ada Bumi Purwa Raya Dangdeur yang hanya sepelempar batu dari kawasan industri terluas di Purwakarta, Kota Bukit Indah (KBI). Di area seluas 5 hektar, PT Panenarta Niaga Persada membangun rumah-rumah komersil dengan kisaran harga mulai Rp250 jutaan sampai Rp278 jutaan untuk tipe 30/60 dan 36/60. Harga tersebut naik dari penjualan perdana pada 2016 lalu dengan harga awal Rp210 jutaan.

Tidak ketinggalan, Sri Pertiwi Sejati (SPS) Group, ‘raja’ rumah subsidi dari Bekasi pun menjajal manisnya properti di kedua wilayah ini. Bahkan di Subang, SPS telah memasarkan 700 unit rumah subsidi melalui proyek Grand Subang Residence. Rencananya, di proyek seluas 30 hektar ini akan dikembangkan sebanyak 2.800 unit rumah.

Baca Juga: SPS Group dan BPJS Ketenagakerjaan Bangun 40 Ribu Rumah Pekerja

Sementara di Grand Purwakarta Residence, SPS Group telah menguasai lahan seluas 300 hektar. Rencananya akan ada 20 ribu rumah subsidi di bangun di sini.

Sumber Berita

Leave A Reply

Your email address will not be published.