Bangun Infrastruktur, Lihat-Lihat Cuaca Dulu

0 1

PojokProperti.Com, (JAKARTA) — Seringkali kita mendengar pembangunan infrastruktur yang sedang berjalan, baik jalan, jalan tol, jembatan, terhenti karena terkendala faktor cuaca. Kalau sekadar banjir mungkin bisa lanjut setelah banjir surut, tetapi kalau bencana gempa atau gunung meletus sangat mungkin menimbulkan kerugian yang besar terhadap proyek infrastruktur yang sedang dikerjakan.

Tak heran kalau Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengingatkan dalam membangun infrastruktur memperhatikan aspek tangguh bencana dengan memanfaatkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Baca Juga: Layanan SIMBG Resmi Diluncurkan

Hal ini ditegaskan oleh Basuki Hadimuljono, Menteri PUPR saat menjadi narasumber Rapat Koordinasi dan Pembangunan Nasional (Rakorbangnas) BMKG, beberapa waktu yang lalu. Menurutnya, pemanfaatan data BMKG penting diperhatikan dalam seluruh tahapan pembangunan infrastruktur mulai dari perencanaan, tahap konstruksi hingga operasi dan pemeliharaan guna  pencegahan dan mitigasi risiko bencana yang berdampak pada infrastruktur tersebut.

Basuki menyebut dalam konteks pencegahan risiko bencana, pemanfaatan data meteorologi atau prediksi cuaca digunakan sebagai dasar Kementerian PUPR dalam merespons risiko bencana hidrometeorologi. Salah satu contohnya dengan membangun Bendungan Ciawi dan Sukamahi di Jawa Barat yang memiliki fungsi utama sebagai pengendali banjir kawasan Metropolitan Jakarta.

“Penggunaan data prakiraan cuaca yang akurat juga sebagai pertimbangan waktu kerja yang efektif (windows time) dalam pembangunan maupun operasional,” ujar Basuki.

Baca Juga: Fitur “RoomMe Always On” Pastikan Penghuni Kost Bebas Worry

Selanjutnya dalam konteks kesiapsiagaan bencana, Kementerian PUPR juga memanfaatkan data meteorologi yang diproduksi dalam peta model untuk prediksi banjir. Informasi akan dirangkum mulai tahapan pemodelan prediksi curah hujan, pengumpulan data curah hujan, pemodelan debit berdasarkan curah hujan yang menghasilkan peta curah hujan dan peta genangan yang selanjutnya diteruskan kepada Balai-Balai Kementerian PUPR di berbagai daerah.

“Pada masa musim hujan, kita juga harus mengetahui dulu prediksi hujan ke depan, sehingga kita tidak hanya melakukan walking true untuk mengecek tanggul-tanggul, tetapi juga pintu air dan pompa-pompa banjir yang harus kita siapkan,” tambah menteri yang jago main drum ini.

Kementerian PUPR memanfaatkan aplikasi Sistem Manajemen Air Terpadu (SIMADU) untuk memproses laporan prediksi cuaca yang selanjutnya ditindaklanjuti oleh Pos Siaga Banjir terintegrasi dengan BMKG untuk melakukan penanganan.

Baca Juga: Bendungan Semantok Ditargetkan Rampung Tahun 2022

Selain itu juga aplikasi Sistem Informasi Bendungan dan Waduk (SINBAD) untuk memantau keamanan dan operasi bendungan dan waduk dengan menampilkan data tinggi muka air (TMA) dan volume bendungan beserta kondisinya secara real time dalam rangka antisipasi terjadinya kondisi bendungan yang tidak normal. Aplikasi SINBAD akan memanfaatkan data klimatologi dari BMKG.

Penggunaan data geofisika (data risiko gempa) dari BMKG juga diperlukan sebagai dasar perencanaan dalam pembangunan gedung, jembatan maupun bendungan. Salah satu contoh dalam pembangunan Jembatan Youtefa yang memperhatikan potensi gempa di wilayah Papua.

Baca Juga: Bangun Rumah Ramah Badai di NTT, Habitat Indonesia Gelar Konser Amal “NTT adalah Kita”

Semua data BMKG  dibutuhkan untuk memastikan keamanan infrastruktur melalui berbagai upaya meminimalkan dampak dari bencana. Diharapkan dengan memperhatikan data BMKG, infrastruktur yang dibangun tidak hanya berdampak pada aspek sosial dan ekonomi, tetapi juga memberikan kenyamanan dan keamanan bagi masyarakat serta berkelanjutan.

Sumber Berita

Leave A Reply

Your email address will not be published.